Selasa, 25 Juni 2019

Perpustakaan Kelompok 2



1.        Konsep Belajar dan Pembelajaran
a.         Konsep Belajar
Dalam buku Psikologi Belajar oleh Dra. Rohmalina Wahab, M.Pdi (2016:35), menurut Khadijah, Tahun 2006. Teori belajar adalah sebagai prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta atau penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar. Menurut Wheeler dkk. yang dikutip dalam buku Nyanyu Khadijah, mengatakan bahwa teori adalah suatu prinsip atau rangkaian prinsip yang menerangkan sejumlah hubungan antara fakta dan meramalkan hasil-hasil baru berdasarkan fakta-fakta tersebut.
Jadi dapat diartikan bahwa teori belajar adalah inprestasi sistematis terhadap suatu proses pembelajaran, kemudian teori tersebut menjadi dasar pembenaran bagi para pelaku pendidikan dalam proses pendidikan.
Menurut Thorndike (2016:38) yang dikutip dalam buku Wasty Soemanto, Tahun 2006. Belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R).
Dalam buku Kurikulum dan Pembelajaran oleh Tim Pengembangan MKDP Kurikulum pembelajaran Tahun 2011 pada halaman 124. Konsep Belajar merupakan  aktivitas yang disengaja dan dilalukan oleh individu agar terjadi perubahan kemampuan diri, dengan belajar anak yang tadinya tidak mampu melakukan sesuatu, menjadi mampu melakukan sesuatu, atau anak tadinya tidak terampil menjadi terampil. Pada halaman 124 terdapat Belajar menurut Gagne (1984), adalah suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Dari pengertian tersebut terdapat tiga unsur pokok dalam belajar, yaitu: (1) proses, (2) perubahan perilaku, dan (3) pengalaman.
b.      Konsep Pembelajaran
Dalam buku Kurikulum dan Pembelajaran oleh Tim Pengembangan MKDP kurikulum pembelajaran Tahun 2011 pada halaman 128 terdapat istilah pembelajaran merupakan perkembangan dari istilah belajar-mengajar yang dapat kita perdebatkan, atau kita abaikan saja yang penting makna dari ketiganya. Pembelajaran adalah suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang guru atau pendidik untuk membelajarkan siswa yang belajar. Pada pendidikan formal (sekolah), pembelajaran merupakan tugas yang dibebankan kepada guru, karena guru merupakan tenaga profesional yang dipersiapkan untuk itu. Pembelajaran disekolah semakin berkembang, dari penagajaran yang bersifat tradisional sampai pembelajaran dengan sistem modern. Kegiatan pembelajaran bukan lgi sekadar kegiatan mengajar (pengajaran) yang mengabaikan kegiatan belajar, yaitu sekedar menyiapkan pengajaran dan melaksanakan prosedur menagajar dalam pembelajaran tatap muka. Akan tetapi, kegiatan pembelajaran lebih kompleks lagi dan dilaksanakan dengan pola-pola pembelajaran yang bervariasi.
Pada halaman 132 terdapat pembelajaran (instruction) merupakan akumolasi dari konsep mengajar (teaching) dan konsep belajar (learning). Penekanannnya terletak pada perpaduan anatara keduanya, yakni kepada penumbuhan aktivitasi subjek didik. Konsep tersebut dapat dipandang sebagai suatu sistem, sehingga dalam sistem belajar ini terdapat komponen-komponen siswa atau peserta didik, tujuan materi untuk mnecapai tujuan, fasilitas dan prosedur serta alat atau media yang harus dipersiapkan.
2.        Media Pembelajaran
a.         Pengertian Media Pembelajaran
Media Pembelajaran menurut Danim, Sudarwan, 2008:7, ada dua yaitu:
1)        Media pembelajaran dalam artian sempit terutama hanya memperhatikan dua unsur dan model kawasan keseluruhan yakni bahan dan alat.(W.Bachtiar, Harsja, 1984:4)
2)        Media pembelajaran merupakan seperangkat alat bantu atau pelengkap yang digunakan oleh guru atau pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau peserta didik.
b.         Jenis-Jenis Media Pembelajaran
Menurut Ruhimat, Toto (2011: 162-164), jenis-jenis media pembelajaran, antara lain:
1)        Media Visual
Adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan dengan indra penglihatan. Jenis media inilah yang sering digunakan oleh para guru untuk membantu menyampaikan isi atau materi pembelajaran.
2)        Media Audio
Adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya dapat di dengar) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan para siswa untuk memperlajari bahan ajar.
3)        Media Audio-Visual
Dengan menggunakan media ini, penyajian bahan ajar kepada siswa akan semakin lengkap dan optimal. Contoh dari media audio-visual program video/televisi pendidikan, video/televisi instriksional, dan program slide suara (sound slide)
a)        Kelompok Media Penyaji
b)        Media Objek dan Media Interaktif
Media objek merupakan media tiga dimensi yang menyampaikan informasi tidak dalam bentuk penyajian, melainkan melalui ciri fisiknya sendiri, seperti ukuran, bentuk, berat, susunan, warna, fungsi, dan sebagainya.
Media interaktif digunakan oleh siswa tidak hanya memperhatikan media atau objek saja, melainkan juga dituntut untuk berinteraksi selama mengikuti pembelajaran.
c.         Fungsi Media Pembelajaran
Fungsi media pembelajaran menurut Rohman (2013:163).
1)        Sebagai sumber belajar
Dalam kalimat sumber belajar ini tersirat makna keaktifan yaitu sebagai penyalur, penyampaian, penghubungn dan lain-lain.
2)        Fungsi Semantik
Fungsi Semantik adalah kemampuan media dalam menambah pembendaharaan kata yang makna atau maksudnya benar-benar dipahami oleh anak-anak.
3)        Fungsi manipulatif
Fungsi manipulatif yaitu kemampuan merekam, menyimpan, melestarikan, merekontruksikan, suatu peristiwa atau objek.
4)        Fungsi Psikologis yang terdiri dari
a)        Fungsi atensi
b)        Fungsi afektif
c)        Fungsi kognitif
d)       Fungsi imajinatif
e)        Fungsi motivasi
f)         Fungsi sosio-kultural
3.         Resensi 2 Buku
a.         Buku Pertama






1)        Nama Penulis          : Prof. Dr. H. E. Mulyasa, M. Pd.
2)        Judul Buku              : Manajemen Pendidikan Karakter
3)        Penerbit                   : PT. Bumi Aksara
4)        Tahun Terbit           : 2016
5)        Ukuran Buku          : 23 cm.
6)        Jauh Halaman         : 280
7)        Rangkuman
Pendidikan karakter merupakan upaya untuk membantu perkembangan jiwa anak anak baik lahir maupun batin, dari sifat kodratinya menuju ke arah arah peradaban manusia dan lebih baik. Sebagai contoh dapat dikemukakan misalnya: anjuran atau suruhan terhadap anak anak untuk duduk yang baik, tidak berteriak teriak agar tidak mengganggu orang lain, bersih badan, rapih pakaian, hormat terhadap orang tua, menyayangi yang muda, menghormati yang tua, menolong teman dan seterusnya dan merupakan proses pendidikan karakter. Sehubungan dengan itu, Dewantaran (1967) pernah mengemukakan beberapa hal yang harus di laksanakan dalam pendidikan karakter, yakni ngerti-ngroso-nglakoni (menyadari, menginsyafi, dan melakukan).
Pendidikan karakter di Indonesia telah menyusun 9 pilar karakter mulia yang selayaknya dijadikan acuan dalam pendidikan karakter, baik di sekolah maupun di luar sekolah, yaitu sebagai berikut.
a)         Cinta Allah dan kebenaran
b)        Tangun jawab, disiplin dan mandiri
c)         Amanah
d)        Hormat dan santun
e)         Kasih sayang, peduli dan kerja sama
f)         Percaya diri, kreatif, dan pantang menyerah
g)        Adil dan berjiwa kepemimpinan
h)        Baik dan rendah hati
i)          Toleran dan cinta damai
Ki Hajar Dewantara sebagai pahlawan pendidikan nasional memiliki pandangan tantang pendidikan karakter sebagai asas taman siswa 1922, dengan tujuh prinsip sebagai berikut.
a)         Hak seseorang untuk mengatur diri sendiri dengan tujuan tertibnya persatuan dalam kehidupan umum.
b)        Pengajaran berarti mendidik anak agar merdeka batinnya, pikirannya, dan
  tenaganya.

c)         Pendidikan harus selaras dengan kehidupan
d)        Kultur sendiri yang selaras dengan kodrat harus dapat memberi kedamaian hidup
e)         Harus bekerja menurut kekuatan sendiri
f)         Perlu hidup dengan berdiri sendiri
g)        Dengan tidak terikat, lahir batin dipersiapkan untuk memberikan pelayanan kepada peserta didik.
Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter dan ahlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan.
Indikator keberhasilan program pendidikan karakter disekolah dapat di ketahui dari berbagai perilaku sehari hari yang tampak dalam setiap aktivitas sebagai berikut.
a)         Kesadaran
b)        Kejujuran
c)         Keikhlasan
d)        Kesederhanaan
e)         Kemandirian
f)         Kepedulian
g)        Kebebasan dalam bertindak
h)        Kecermatan/ ketelitian
i)          Komitmen
Berkaitan dengan pendidikan karakter ini, character education quality standards merekomendasikan 11 prinsip untuk mewujudkan pendidikan karakter yang efektif, sebagai berikut ini.
a)         Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter
b)        Mengidentifikasikan secara komperhensif supaya mencakup pemikiran, perasaan, dan perilaku
c)         Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif, dan efektif untuk membangun karakter
d)        Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian
e)         Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan perilaku yang baik
f)         Memilki cakupan terhdap kurikulum yang bermakna dan menantang yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka dan membantu mereka untuk sukses
g)        Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri dari para peserta didik
h)        Memfungsikan seluruh staff sekolah sebagai komunitas moral yang berbagai tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setiap kepada nilai dasar yang sama
i)    Adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter
j)          Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter
k)        Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staff sekolah sebagai guru-guru karakter, dan menifestasi karakter positif dalam kehidupan peserta didik.
b.        Buku Kedua




1)        Nama Penulis          : Tjetje Jusuf
2)        Judul                       : Kesukaran-kesukaran Dalam Pendidikan
3)        Penerbit                   : Balai Pustaka
4)        Tahun Terbit           : 1991
5)        Ukuran Buku          : 21 cm
6)        Jauh Halaman         : 95
7)        Rangkuman
Mendidik adalah kewajiban setiap orang tua. Guru merupakan orang yang dipercaya orang tua untuk mendidik murid-muridnya. Tetapi tidaklah benar, apabila ilmu pendidikan itu hanya harus diajarkan di sekolah- sekolah saja.
Dalam pekerjaan mendidik ada satu hubungan yang paling utama, yang harus senantiasa dalam keadaan tenggang-menenggang, ialah hubungan antara si pendidik dengan si anak atau dalam kehidupan sehari-hari antara orang tua dengan anaknya. Modal utama dalam mendidik adalah rasa cinta. Tetapi selalu saja timbul pertentangan-pertentangan diantara mereka.
Ada beberapa orang tua yang merasa dirinya telah mahir dalam mendidik anak-anaknya dengan caranya pula. Sayangnya tidak jarang di antara mereka menggunakan cara yang salah. contohnya seorang ayah mendidik anaknya dengan memukul sampai babak belur. Hal itu dapat mengakibatkan bahaya bagi perkembangan si anak.
Andai kata dari sejak lahir anak didik dengan cara tepat dan benar, tanpa kesalahan sedikitpun, baik kesalahan yang dibuat orang tua maupun keadaan lingkungan sekitarnya maka akan sangat jarang kita temui pertentangan tersebut.
Kesukaran-kesukaran yang sering timbuldalam pendidikan
a)         Ketidak patuhan
b)        Bandel atau keras kepala
c)         Keinginan untuk menonjolkan diri
d)        Sibanyak tanya
e)         Anak bermulut usil
f)         Malu
g)        Malas
h)        Bodoh
i)          Bohong
j)          Mencuri
k)        Pura-pura
l)          Bolos
m)      Iri hati
n)        Mengadu
o)        Nyontek atau mencontoh secara tidak jujur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar