1.
Konsep Belajar
dan Pembelajaran
a.
Konsep Belajar
Dalam
buku Psikologi Belajar oleh Dra. Rohmalina Wahab, M.Pdi (2016:35), menurut
Khadijah, Tahun 2006. Teori belajar adalah sebagai prinsip yang saling
berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta atau penemuan yang
berkaitan dengan peristiwa belajar. Menurut Wheeler dkk. yang dikutip dalam
buku Nyanyu Khadijah, mengatakan bahwa teori adalah suatu prinsip atau
rangkaian prinsip yang menerangkan sejumlah hubungan antara fakta dan
meramalkan hasil-hasil baru berdasarkan fakta-fakta tersebut.
Jadi
dapat diartikan bahwa teori belajar adalah inprestasi sistematis terhadap suatu
proses pembelajaran, kemudian teori tersebut menjadi dasar pembenaran bagi para
pelaku pendidikan dalam proses pendidikan.
Menurut
Thorndike (2016:38) yang dikutip dalam buku Wasty Soemanto, Tahun 2006. Belajar
merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa
yang disebut stimulus (S) dengan respon (R).
Dalam
buku Kurikulum dan Pembelajaran oleh Tim Pengembangan MKDP Kurikulum
pembelajaran Tahun 2011 pada halaman 124. Konsep Belajar merupakan aktivitas yang disengaja dan dilalukan oleh
individu agar terjadi perubahan kemampuan diri, dengan belajar anak yang
tadinya tidak mampu melakukan sesuatu, menjadi mampu melakukan sesuatu, atau
anak tadinya tidak terampil menjadi terampil. Pada halaman 124 terdapat Belajar
menurut Gagne (1984), adalah suatu proses dimana suatu organisme berubah
perilakunya sebagai akibat pengalaman. Dari pengertian tersebut terdapat tiga
unsur pokok dalam belajar, yaitu: (1) proses, (2) perubahan perilaku, dan (3)
pengalaman.
b.
Konsep
Pembelajaran
Dalam buku Kurikulum dan Pembelajaran oleh Tim Pengembangan
MKDP kurikulum pembelajaran Tahun 2011 pada halaman 128 terdapat istilah
pembelajaran merupakan perkembangan dari istilah belajar-mengajar yang dapat
kita perdebatkan, atau kita abaikan saja yang penting makna dari ketiganya. Pembelajaran
adalah suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang guru atau pendidik untuk
membelajarkan siswa yang belajar. Pada pendidikan formal (sekolah),
pembelajaran merupakan tugas yang dibebankan kepada guru, karena guru merupakan
tenaga profesional yang dipersiapkan untuk itu. Pembelajaran disekolah semakin
berkembang, dari penagajaran yang bersifat tradisional sampai pembelajaran
dengan sistem modern. Kegiatan pembelajaran bukan lgi sekadar kegiatan mengajar
(pengajaran) yang mengabaikan kegiatan belajar, yaitu sekedar menyiapkan
pengajaran dan melaksanakan prosedur menagajar dalam pembelajaran tatap muka. Akan
tetapi, kegiatan pembelajaran lebih kompleks lagi dan dilaksanakan dengan
pola-pola pembelajaran yang bervariasi.
Pada halaman 132 terdapat pembelajaran (instruction)
merupakan akumolasi dari konsep mengajar (teaching) dan konsep belajar
(learning). Penekanannnya terletak pada perpaduan anatara keduanya, yakni
kepada penumbuhan aktivitasi subjek didik. Konsep tersebut dapat dipandang
sebagai suatu sistem, sehingga dalam sistem belajar ini terdapat
komponen-komponen siswa atau peserta didik, tujuan materi untuk mnecapai
tujuan, fasilitas dan prosedur serta alat atau media yang harus dipersiapkan.
2.
Media
Pembelajaran
a.
Pengertian Media Pembelajaran
Media
Pembelajaran menurut Danim, Sudarwan, 2008:7, ada dua yaitu:
1)
Media pembelajaran dalam artian sempit
terutama hanya memperhatikan dua unsur dan model kawasan keseluruhan yakni
bahan dan alat.(W.Bachtiar, Harsja, 1984:4)
2)
Media pembelajaran merupakan seperangkat
alat bantu atau pelengkap yang digunakan oleh guru atau pendidik dalam rangka
berkomunikasi dengan siswa atau peserta didik.
b.
Jenis-Jenis Media Pembelajaran
Menurut
Ruhimat, Toto (2011: 162-164), jenis-jenis media pembelajaran, antara lain:
1)
Media Visual
Adalah media yang hanya dapat dilihat
dengan menggunakan dengan indra penglihatan. Jenis media inilah yang sering
digunakan oleh para guru untuk membantu menyampaikan isi atau materi
pembelajaran.
2)
Media Audio
Adalah
media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya dapat di dengar) yang
dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan para siswa untuk
memperlajari bahan ajar.
3)
Media Audio-Visual
Dengan
menggunakan media ini, penyajian bahan ajar kepada siswa akan semakin lengkap
dan optimal. Contoh dari media audio-visual program video/televisi pendidikan,
video/televisi instriksional, dan program slide suara (sound slide)
a)
Kelompok Media Penyaji
b)
Media Objek dan Media Interaktif
Media objek merupakan media tiga dimensi yang
menyampaikan informasi tidak dalam bentuk penyajian, melainkan melalui ciri
fisiknya sendiri, seperti ukuran, bentuk, berat, susunan, warna, fungsi, dan
sebagainya.
Media interaktif digunakan oleh siswa tidak hanya
memperhatikan media atau objek saja, melainkan juga dituntut untuk berinteraksi
selama mengikuti pembelajaran.
c.
Fungsi Media Pembelajaran
Fungsi
media pembelajaran menurut Rohman (2013:163).
1)
Sebagai sumber belajar
Dalam kalimat sumber belajar ini tersirat makna
keaktifan yaitu sebagai penyalur, penyampaian, penghubungn dan lain-lain.
2)
Fungsi Semantik
Fungsi Semantik adalah kemampuan media dalam
menambah pembendaharaan kata yang makna atau maksudnya benar-benar dipahami
oleh anak-anak.
3)
Fungsi manipulatif
Fungsi manipulatif yaitu kemampuan merekam,
menyimpan, melestarikan, merekontruksikan, suatu peristiwa atau objek.
4)
Fungsi Psikologis yang terdiri dari
a)
Fungsi atensi
b)
Fungsi afektif
c)
Fungsi kognitif
d) Fungsi
imajinatif
e)
Fungsi motivasi
f)
Fungsi sosio-kultural
3.
Resensi 2 Buku
a.
Buku Pertama
1)
Nama Penulis : Prof. Dr. H. E. Mulyasa, M. Pd.
2)
Judul Buku :
Manajemen Pendidikan Karakter
3)
Penerbit : PT. Bumi Aksara
4)
Tahun Terbit : 2016
5)
Ukuran Buku : 23 cm.
6)
Jauh Halaman : 280
7)
Rangkuman
Pendidikan
karakter merupakan upaya untuk membantu perkembangan jiwa anak anak baik lahir
maupun batin, dari sifat kodratinya menuju ke arah arah peradaban manusia dan
lebih baik. Sebagai contoh dapat dikemukakan misalnya: anjuran atau suruhan
terhadap anak anak untuk duduk yang baik, tidak berteriak teriak agar tidak
mengganggu orang lain, bersih badan, rapih pakaian, hormat terhadap orang tua,
menyayangi yang muda, menghormati yang tua, menolong teman dan seterusnya dan
merupakan proses pendidikan karakter. Sehubungan dengan itu, Dewantaran (1967)
pernah mengemukakan beberapa hal yang harus di laksanakan dalam pendidikan
karakter, yakni ngerti-ngroso-nglakoni (menyadari,
menginsyafi, dan melakukan).
Pendidikan
karakter di Indonesia telah menyusun 9 pilar karakter mulia yang selayaknya dijadikan
acuan dalam pendidikan karakter, baik di sekolah maupun di luar sekolah, yaitu
sebagai berikut.
a)
Cinta Allah dan kebenaran
b)
Tangun jawab, disiplin dan mandiri
c)
Amanah
d)
Hormat dan santun
e)
Kasih sayang, peduli dan kerja sama
f)
Percaya diri, kreatif, dan pantang
menyerah
g)
Adil dan berjiwa kepemimpinan
h)
Baik dan rendah hati
i)
Toleran dan cinta damai
Ki Hajar Dewantara sebagai pahlawan
pendidikan nasional memiliki pandangan tantang pendidikan karakter sebagai asas
taman siswa 1922, dengan tujuh prinsip sebagai berikut.
a)
Hak seseorang untuk mengatur diri
sendiri dengan tujuan tertibnya persatuan dalam kehidupan umum.
b)
Pengajaran berarti mendidik anak agar
merdeka batinnya, pikirannya, dan
tenaganya.
tenaganya.
c)
Pendidikan harus selaras dengan
kehidupan
d)
Kultur sendiri yang selaras dengan
kodrat harus dapat memberi kedamaian hidup
e)
Harus bekerja menurut kekuatan sendiri
f)
Perlu hidup dengan berdiri sendiri
g)
Dengan tidak terikat, lahir batin
dipersiapkan untuk memberikan pelayanan kepada peserta didik.
Pendidikan karakter bertujuan untuk
meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan
karakter dan ahlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang,
sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan.
Indikator keberhasilan program
pendidikan karakter disekolah dapat di ketahui dari berbagai perilaku sehari
hari yang tampak dalam setiap aktivitas sebagai berikut.
a)
Kesadaran
b)
Kejujuran
c)
Keikhlasan
d)
Kesederhanaan
e)
Kemandirian
f)
Kepedulian
g)
Kebebasan dalam bertindak
h)
Kecermatan/ ketelitian
i)
Komitmen
Berkaitan dengan pendidikan
karakter ini, character education quality
standards merekomendasikan 11 prinsip untuk mewujudkan pendidikan karakter
yang efektif, sebagai berikut ini.
a)
Mempromosikan nilai-nilai dasar etika
sebagai basis karakter
b)
Mengidentifikasikan secara komperhensif
supaya mencakup pemikiran, perasaan, dan perilaku
c)
Menggunakan pendekatan yang tajam,
proaktif, dan efektif untuk membangun karakter
d)
Menciptakan komunitas sekolah yang
memiliki kepedulian
e)
Memberi kesempatan kepada peserta didik
untuk menunjukkan perilaku yang baik
f)
Memilki cakupan terhdap kurikulum yang
bermakna dan menantang yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter
mereka dan membantu mereka untuk sukses
g)
Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri
dari para peserta didik
h)
Memfungsikan seluruh staff sekolah
sebagai komunitas moral yang berbagai tanggung jawab untuk pendidikan karakter
dan setiap kepada nilai dasar yang sama
i) Adanya pembagian kepemimpinan moral dan
dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter
j)
Memfungsikan keluarga dan anggota
masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter
k)
Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi
staff sekolah sebagai guru-guru karakter, dan menifestasi karakter positif
dalam kehidupan peserta didik.
b.
Buku Kedua
![]() |
1)
Nama Penulis : Tjetje
Jusuf
2)
Judul
:
Kesukaran-kesukaran Dalam Pendidikan
3)
Penerbit :
Balai Pustaka
4)
Tahun
Terbit : 1991
5)
Ukuran
Buku : 21 cm
6)
Jauh
Halaman : 95
7)
Rangkuman
Mendidik adalah kewajiban setiap orang tua. Guru merupakan orang yang
dipercaya orang tua untuk mendidik murid-muridnya. Tetapi tidaklah benar,
apabila ilmu pendidikan itu hanya harus diajarkan di sekolah- sekolah saja.
Dalam pekerjaan mendidik ada satu hubungan yang paling utama, yang harus
senantiasa dalam keadaan tenggang-menenggang, ialah hubungan antara si pendidik
dengan si anak atau dalam kehidupan sehari-hari antara orang tua dengan
anaknya. Modal utama dalam mendidik adalah rasa cinta. Tetapi selalu saja
timbul pertentangan-pertentangan diantara mereka.
Ada beberapa orang tua yang merasa dirinya telah mahir dalam mendidik
anak-anaknya dengan caranya pula. Sayangnya tidak jarang di antara mereka
menggunakan cara yang salah. contohnya seorang ayah mendidik anaknya dengan
memukul sampai babak belur. Hal itu dapat mengakibatkan bahaya bagi
perkembangan si anak.
Andai
kata dari sejak lahir anak didik dengan cara tepat dan benar, tanpa kesalahan
sedikitpun, baik kesalahan yang dibuat orang tua maupun keadaan lingkungan
sekitarnya maka akan sangat jarang kita temui pertentangan tersebut.
Kesukaran-kesukaran yang sering timbuldalam pendidikan
a)
Ketidak
patuhan
b)
Bandel
atau keras kepala
c)
Keinginan
untuk menonjolkan diri
d)
Sibanyak
tanya
e)
Anak
bermulut usil
f)
Malu
g)
Malas
h)
Bodoh
i)
Bohong
j)
Mencuri
k)
Pura-pura
l)
Bolos
m)
Iri
hati
n)
Mengadu
o)
Nyontek
atau mencontoh secara tidak jujur.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar