Kamis, 28 November 2019

Media Aksara Lontara









Alat dan Bahan:
  1. kertas karton
  2. Kertas berwarna
  3. Gunting
  4. Pensil
  5. Penghapus
  6. Lem
  7. Pensil warna 



Langkah kerja:
  1. Siapkan alat dan bahannya terlebih dahulu.
  2. Setelah itu menggambar pohon di kertas karton.
  3. Kemudian menggambar daun di kertas berwarna.
  4. Setelah itu menggunting kertas berwarna yang sudah berbentuk daun.
  5. Lalu huruf aksara lontara ditempelkan dikertas yang sudah berbentuk daun.
  6. Setelah selesai kertas yang berbentuk daun ditempel dibatang pohon.
Cara pengguna media:
  1. Guru menunjuk salah satu siswa untuk naik kedepan.
  2. Kemudian siswa menunjuk dan membaca huruf.      
LONTARA adalah aksara tradisional masyarakat Bugis dan Makassar. Bentuk aksara lontara menurut budayawan Prof Mattulada (alm) berasal dari "sulapa eppa wala suji". Wala suji berasal dari kata wala yang artinya pemisah/pagar/penjaga dan suji yang berarti putri. Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, api-air-angin-tanah. Huruf lontara ini pada umumnya dipakai untuk menulis tata aturan pemerintahan dan kemasyarakatan. Naskah ditulis pada daun lontar menggunakan lidi atau kalam yang terbuat dari ijuk kasar (kira-kira sebesar lidi).

SEJARAH
Lontara adalah perkembangan dari tulisan Kawi yang digunakan di kepulauan Indonesia sekitar tahun 800-an. Namun dari itu, tidak diketahui apakah Lontara merupakan turunan langsung dari Kawi atau dari kerabat Kawi lain karena kurangnya bukti. Terdapat teori yang menyatakan bahwa tulisan Lontara didasarkan pada tulisan Rejang, Sumatra selatan karena adanya kesamaan grafis di antara dua tulisan tersebut. Namun hal ini tidak berdasar, karena beberapa huruf lontara merupakan perkembangan yang berumur lebih muda.[1]
Istilah "Lontara" juga mengacu pada literatur mengenai sejarah dan geneologi masyarakat Bugis. Contoh paling panjang dan terkenal barangkali merupakan mitos penciptaan bugis Sure’ Galigo, dengan jumlah halaman yang mencapai 6000 lembar. Lontara pernah dipakai untuk menulis berbagai macam dokumen, dari peta, hukum perdagangan, surat perjanjian, hingga buku harian. Dokumen-dokumen ini biasa ditulis dalam sebuah buku, tetapi terdapat juga medium tulis tradisional bernama Lontara’, di mana selembar daun lontar yang panjang dan tipis digulungkan pada dua buah poros kayu sebagaimana halnya pita rekaman pada tape recorder. Teks kemudian dibaca dengan menggulung lembar tipis tersebut dari kiri ke kanan.[2]
  1. Walaupun penggunaan aksara Latin telah menggantikan Lontara, tulisan ini masih dipakai dalam lingkup kecil masyarakat Bugis dan Makassar. Dalam komunitas Bugis, penggunaan Lontara terbatas dalam upacara seperti pernikahan, sementara di Makassar tulisan Lontara kadang dibubuhkan dalam tanda tangan dan dokumen pribadi.aksara lontara yang sudah disiapkan.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar